Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 di Mesir pada Selasa hingga Kamis (17-19/12/2024). Pertemuan ini adalah agenda rutin bagi negara-negara anggota D-8 untuk membahas berbagai isu penting yang menyangkut kepentingan antarnegara.
Dalam pertemuan tersebut, isu penting yang dibahas di antaranya perdagangan antarnegara anggota, pemberdayaan UMKM, hingga kerja sama di bidang teknologi dan pembangunan berkelanjutan. Jika ditelisik lebih dalam, KTT D-8 di Mesir sebenarnya tidak hanya soal pembicaraan antarpemimpin negara, melainkan ada satu hal menarik di baliknya, yakni ditampilkannya kemegahan ibu kota baru Mesir.
KTT D-8 2024 diselenggarakan di Istana Kepresidenan, New Administrative Capital. Adapun New Administrative Capital merupakan kota yang dibangun Mesir untuk menggantikan Kairo sebagai pusat pemerintahan. Di sana, Prabowo dan pemimpin negara anggota D-8 lainnya hadir dengan diliputi suasana megah kota dan istana.
Pemerintah Mesir menggarap proyek ambisius berupa pembangunan New Administrative Capital sejak 2016 untuk mengatasi kemacetan parah di Kairo yang kian padat. Langkah strategis ini diambil terlebih mengingat populasi Kairo Raya diprediksi akan melonjak tajam dari 18 juta menjadi 40 juta jiwa pada tahun 2050 mendatang. Selain itu, menurut informasi resmi yang dipublikasikan pemerintah Mesir, kehadiran kota ini diharapkan mampu memperkuat serta mendiversifikasi potensi ekonomi negara. Dengan terciptanya pusat-pusat baru untuk hunian, bekerja, sekaligus destinasi wisata, maka roda ekonomi pun berputar.
Berlokasi sekitar 45 kilometer di timur Kairo, ibu kota baru ini menempati posisi strategis di koridor menuju Laut Merah yang terhubung dengan rute pelayaran internasional utama. Di area seluas 700 kilometer persegi, berdiri pusat administrasi dan keuangan baru yang menampung kementerian serta kedutaan besar asing. Hanya saja, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) sendiri saat ini masih berada di Kairo, tepatnya di Qasr El Nil.
Dengan daya tampung hingga tujuh juta penduduk, kawasan ini mengubah lahan yang tadinya area yang belum berkembang menjadi lokasi diproyeksikan menjadi titik fokus pertumbuhan wilayah Mesir Timur. Mengusung tema smart city, berbagai fasilitas pun dihadirkan mulai dari institusi pendidikan, rumah sakit, hingga taman hiburan besar. Plus ada pula infrastruktur pendukung lainnya seperti kereta listrik yang terhubung ke Kairo, bandara internasional, serta lahan energi surya. Transformasi ini menjadi bukti nyata ambisi Mesir dalam mengembangkan wilayahnya demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat di masa depan.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Indonesia melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Sebagaimana diketahui, pemerintah Indonesia mulai membangun IKN sejak 2022 di Kalimantan Timur. Pertimbangan di belakangnya pun serupa dengan New Administrative Capital Mesir di mana Indonesia ingin mendorong pemerataan ekonomi sekaligus mengurangi beban Jakarta yang sudah terlalu padat penduduk, juga mengatasi masalah lingkungan seperti banjir dan penurunan tanah.
Tag: